Cinta Mistikus Jalaluddin Rumi

Posted by yusuf

  “Kata-kata tidak lain hanyalah ‘bayangan’ dari kenyataan. Kata-kata merupakan cabang dari kenyataan. Apabila ‘bayangan’ saja dapat menawan hati, betapa mempesona kekuatan kenyataan yang ada di balik bayangan!. Kata-kata hanyalah pra-teks, aspek simpatilah yang dapat menarik hati orang pada orang lain, bukan kata-kata. Walaupun manusia dapat melihat ribuan mukjizat yang dimiliki seorang nabi atau seorang suci, hal itu tidak akan membawa keuntungan baginya sama sekali apabila dia tidak memiliki simpati kepada nabi ataupun orang suci itu. Unsur simpati itulah yang dapat mengguncangkan dan menggelisahkan seseorang. Apabila tidak terdapat unsur simpati warna gading padi pada batang padi, maka padi itu tidak akan dipesonakan warna gading. Meskipun begitu, simpati yang memiliki kekuatan dahsyat itu tidak dapat diindera oleh seseorang.

  Itulah salah satu pernyataan dari seorang penyair, filosof, sastrawan besar Jalaluddin Rumi, yang banyak dikenal pula oleh tidak hanya sebagian orang atau kelompok, golongan, sebagai salah seorang tokoh sufi islam termasyhur, berkat karya-karya sastranya, yang dengan lirihnya mendendangkan cinta tiada tara kepada-Nya. Cinta dan rindu yang tiada akhir, ketulusan yang tanpa batas ke hadirat sang Khaliq. Suatu hasrat untuk melebur menjadi satu—fana—dengan tuhan.

  Bagi pembaca yang sekaligus pecinta sastra tentunya tidak akan merasa asing, menyimak ungkapan-ungkapan kata yang mengkalimat di atas, ini dikutip dari sebuah buku yang terjemahan Inggrisnya, “Signs of the unseen ; the discourses of Jalaluddin Rumi”, karya ini merupakan terjemahan dari nas asli Persia yang disunting oleh Prof. Badi’uzzaman Furuzanfar yang berjudul “Fihi ma fihi” yang pernah diterbitkan majelis press di Teheran. Pada tahun 1330h/1952m dalam bahasa Arab. Dan sekarang ini sudah diterjemahkan pula ke dalam bahasa Indonesia dengan mengambil judul “Yang mengenal dirinya yang mengenal Tuhannya : Aforisme-aforisme sufistik Jalaluddin Rumi”.

Jalaluddin Rumi lahir di Balkhi, sebuah kota yang terletak dalam wilayah perbatasan Afganistan bagian utara, pada tahun 1207m. Ayahnya seorang yang terdidik yang mendapat kedudukan terhormat sebagai salah satu pemimpin teologi dan guru sufisme, bernama lengkap Jalaluddin Baha’uddin Muhammad yang kemudian lebih dikenal dengan nama Baha Walad. Dari ayahnyalah Jalaluddin Rumi banyak mendapatkan pengajaran tentang ilmu-ilmu klasik Arab dan Persia dan banyak lagi ajaran agama islam yang Jalaluddin Rumi dapatkan berkat pengaruh besar ayahnya tersebut.

  Jalaluddin Rumi juga mendalami kitab suci Al-Qur’an, baik dari segi pembacaan, penjelasan ataupun penafsirannya, sampai kepada cabang ilmu fiqih islam dan hadits-hadits nabi yang Jalaluddin Rumi tunjukkan melalui karya-karyanya yang termasyhur dan mendalam.

K.H MUHAMMAD KHOLIL (MBAH KHOLIL) BANGKALAN . MADURA .

Posted by yusuf

Mengetahui Pikiran Kiai Noer
Ketika Kholil muda menyantri pada Kiai Noer di pesantren Langitan Tuban. Kholil seperti biasanya ikut jama'ah sholat yang memang keharusan para santri. Di tengah kekhusukan jama'ah sholat, tiba-tiba kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Noer. Dengan kening berkerut, kiai bertanya:
"Kholil, kenapa waktu sholat tadi, kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu itu meengganggu kekhusukan sholat dan sholat kamu tidak syah?!" Kholil menjawab dengan tenang, "Maaf, begini Kiai, waktu sholat tadi saya sedang melihat Kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul, karena itu saya tertawa. Sholat kok mengaduk-aduk nasi. Salahkah yang saya lihat itu, kiai?" Jawab Kholil muda dengan mantap dan sopan.
Kiai Muhammad Noer terkejut. Kholil benar, Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya, Kiai Muhammad Noer duduk dengan tenang sambil menerawang lurus ke depan, serta merta berbicara kepada santri kholil: "Kau benar anakku, saat mengimami sholat tadi perut saya memang sedang lapar. Yang terbayang dalam pikiran saya saat itu, memang hanya nasi, anakku," ucap Kiai Muhammad Noer secara jujur. Sejak kejadian itu kelebihan Kholil akhirnya menyebar. Bukan hanya terbatas di pesantren Langitan, tetapi juga sampai ke pesantren lain di sekitarnya. Karena itu, setiap kiai yang akan ditimba ilmunya oleh Kholil muda, maka para kiai itu selalu mengistimewakannya.

Pimpinan Pesantren Watucongol Wafat

Posted by yusuf

Magelang, BulZan
Ulama berpengaruh yang juga pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, KH Ahmad Abdul Haq Dalhar (Mbah Mad) meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, Kamis (8/7/2010), karena sakit.
"Tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB beliau meninggal dunia, kemarin sore dibawa ke rumah sakit," kata KH Choirul Muna (Gus Muna), salah seorang menantu almarhum, di Magelang.

Muna mengatakan, Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum), dan Hajah Cofsoh, sembilan anak yang dua di antaranya sudah meninggal dunia, 32 cucu, dan 10 cicit.

Pemakaman jenazah di Pekuburan Santren, Desa Gunungpring, relatif tak jauh dari kompleks pesantren itu pada Kamis, sekitar pukul 15.00 WIB.

Pesantren kultural itu didirikan oleh ayah Mbah Mad, almarhum Ahmad Dalhar, ulama kharismatik pada zamannya yang juga keturunan Raja Amangkurat Mas berasal dari Kerajaan Mataram.